Tampilkan postingan dengan label Kebumen. Tampilkan semua postingan

Bangganya Menjadi Anggota PMR Madya



Oleh : Chohiriyah Fadillah
SMP Muhammadiyah 2 Kebumen

PMI, siapa yang tidak mengenal kata tersebut ? Sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk menolong sesama dalam kondisi apapun dan aku, Choiriyahm siswa dari SMP Muhammadiyah 3 Kebumen memiliki pengalaman tentang kepalangmerahan. Ini adalah pengalamanku sejak  pertama mengikuti anggota kepalangmerahan sampai sekarang. Saat itu aku baru saja masuk ke sekolah SMP. Aku masuk ke sekolah SMP Muhammadiyah 2 Kebumen, yaitu sekolah yang mengutamakan agama Islam dan itu juga yang membuat orangtuaku memasukkan ke sekolah itu.

Awal masuk SMP kita mengikuti kegiatan MOS. Dalam MOS biasanya dikenalkan yang namanya kegiatan ekstra kurikuler. Ada banyak pilihan di esktra kurikuler, tetapi hanya satu yang membuat aku tertarik yaitu ekstra kurikuler PMR. Entah kenapa ketika aku dikenalkan berbagai jenis ekstra kurikuler aku hanya tertarik dengan PMR. Waktu masih di SD memang ada kegiatan yang namanya dokter kecil. Kegiatan ini memang hampir sama dengan kegiatan PMR. Tapi, waktu di SD, entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan dokter kecil dan aku tertarik kegiatan itu ketika di SMP.

Awal masuk sekolah aku masih malu untuk bermain bersama sama teman dan semua itu berubah ketika aku masuk menjadi anggota PMR di sekolah. Mengikuti kegiatan PMR membuatku menjadi lebih mudah bergaul dengan teman. Dalam kegiatan PMR juga kami dikenalkan banyak hal oleh guru pembina PMR dan pelatihnya. Nama pembinanya adalah Ibu Sapto. Beliau adalah guru IPS. Pelatih kami dari anggota PMI. Namanya adalah Pak Muhammad. Pak Muhammad adalah salah satu anggota PMI di Kebumen. Beliau sering menceritakan pengalamannya menjadi anggota PMI. Pengalamannya itu membuat aku semakin yakin untuk menjadi anggota PMR di sekolahku.

Saat itu aku masih kelas 7 dan aku sudah mulai bangga menjadi anggota PMR. Kami latihan PMR 1 minggu sekali dan dikarenakan aku pulang sekolah sampai sore, jadi aku dan teman-teman sekelasku hanya bisa mengikuti latihan sebentar saja. Dengan waktu sesingkat itu, pembinaku mengusulkan agar latihan PMR bisa berlangsung 2 kali seminggu yaitu hari Sabtu dan Minggu. Tapi tidak setiap Minggu tentu latihan dikarenakan pelatig kami yang sering ada kegiatan lain selain mengajar kami. Hal itu tidak membuat kami sebagai anggota PMR tidak latihan. Sering kami latihan sendiri tanpa pelatih dan hanya didampingi oleh pembina.

Waktu demi waktu berlalu dan kami anggota PMR diberi tanggung jawab oleh sekolah untuk mengikuti lomba PMR Madya se Kabupaten Kebumen. Lomba itu dilaksanakan di SMP N 1 Karangsambung. Kami semua berlatih sesuai pos masing-masing. Aku mengikuti lomba travelling. Semua orang pasti mengira bahwa kegiatan travelling itu outbound. Awalnya aku juga mengira seperti itu. Ternyata tidak semua kegiatan travelling itu seperti outbond, tetapi mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan PMR. Pusing..... itu yang aku rasakan saat itu. Soalnya, dalam waktu yang singkat, aku harus belajar tentang Buku Panduan PMR. Aku mengikuti lomba bersama temanku, Fadillah. Aku dan temanku membaca buku-buku yang diberikan oleh pembina kami. Kami membacanya di waktu luang dan sampai tiba saatnya perlombaan, rasa taku sedikit melintas di dalam benakku. Tetapi aku dan temanku harus mengerjakan soal-soal itu. Pos demi pos kami lalui. Soalnya memang agak susah tetatoi kami mengerjakannya dengan yakin.
Setelah selesai semua, kami beristirahat sambil menunggu hasil perlombaan yang diumumkan sore itu juga. Cukup lama kami menunggu dan sampai tiba waktunya pengumuman pemenang lomba itu, tegang, cemas dan khawatir yang aku rasakan. Memang, menang kalah itu soal biasa. Semua orang pasti menginginkan kemenangan dan itu juga yang aku inginkan. Tetapi itu semua hanya mimpi karena aku tidak mendapatkan juara. Perasaan tadi memang ada tapi jadi hilang karena temanku juara 1. Senang sekali, apalagi kali yang menjadi juara itu aku sendiri.

Kelas 8 aku masih mengikuti kegiatan PMR dan aku tidak ingin berpindah ke kegiatan ekstra kuikuler lain sampai sekarang aku kelas 9. Lomba mengarang ini membuat aku ingat kembali waktu dulu pertama masuk menjadi anggota PMR. Banyak pengalaman yang aku dapatkan selama menjadi anggota PMR Madya. Dan semua itu akan menjadi pengalaman yang akan aku ceritakan kepada anak-anakku kelak. Aku sangat bangga dan senang menjadi anggota PMR. Karena dengan menjadi anggota PMR aku bisa membantu sesama seperti apa yang pelatih ceritakan.

Salam manis dari penulis.        



Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

RELAWAN PMR TAK TERDUGA



Alhamdulillah, segala puji mari kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberi kita kesehatan dan rahmatNya, Sehingga saya di sini bisa mengikuti lomba membuat karya tulis. Perkenankan Dewan Juri saya ingin memberikan atau menceritakan beberapa pengalaman saya terkait kegiatan sosial PMR yang saya ikuti di sekolahku tercinta SMP Negeri 3 Kebumen. Tepatnya di saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Sekarang saya sudah kelas 9 dan semua kegiatan ekstra kurikuler dihentikan termasuk PMR yang baru-baru ini saya gemari. Saat kelas 8 dulu saya enggan ataupun tidak menyukai kegiatan ekstra kurikuler wajib tersebut. Mengikuti hanya dengan kata terpaksa tanpa rasa ihlas sedikitpun. Semenjak saat itu kakakku mengetahuinya dan dialah yang memotivasiku. Dialah seorang yang paling aktif di sekolahnya dulu, terutama di kegiatan Palang Merah Remaja. Dialah sukarelawan PMI dan juga pernah menjabat sebagai ketua PMR di sekolahnya SMK N 2 Kebumen,

Saat aku mulai malas dan enggan untuk mengikuti PMR dia begitu antusiasnya memberi dukungan dan menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya saat mengikuti kegiatan-kegiatan PMI. Sebagai contoh di saat mengikuti Jumbara PMI dan temu kangen KSR. Mulai saat itu aku tertarik dan ingin memperdalam pengetahuanku dengan seluk beluk PMI ataupun PMR. Aku mulai aktif di kegiatan ekstra kurikuler atau anak-anak zaman sekarang sering menyingkatnya dengan “eskul PMR” banyak pengalaman yang ku dapatkan dari kegiatan tersebut. Dan sekarang aku rela bergelut di bidang ke-PMR-an sampai saatnya di akhir kelas 8 aku ditunjuk menjadi Dewan PMR di sekolah ku. Di titik inilah awal dari perjuanganku untuk menjadi relawan PMI . Kelak jika aku besar nanti, meneruskan jejak-jejak dari kakakku tercinta.

Aku merasa senang dan bangga ditunjuk jadi Dewan PMR demi cita-citaku mengejar impian menjadi sukarelawan PMI. Banyak hal bisa ku dapatkan dari PMR diantaranya:
  • dapat menangani di saat melakukan PP (Pertolongan Pertama)
  • mengetahui dasar-dasar merawat orang sakit
  • membantu sesama manusia yang kesusahan
  • mengetahui dan paham akan alat-alat kesehatan
  • mengetahui cara penanganan orang yang terkena kecelakaan
Dan masih banyak sekali hal-hal positif yang kudapatkan saat mengikuti kegiatan ke-Palang Merah-an. Lebih lebih saat turun di lapangan dan mempraktekkan pengetahuanku dan menerapkan konsep penanganan kepada orang kecelakaan. Dengan bekal pengalaman saya mencoba mempraktekkan cara-cara menangani orang yang mengalami kecelakaan yang diajarkan oleh para pembina-pembina PMR yang dulu. Sungguh sangat bermanfaat ilmu Palang Merah tersebut. Sayangnya di kelas 9 ini kegiatan PMR sekolah mulai  tidak aktif di kalangan anak-anak tertua tersebut dan digantikan oleh anak-anak kelas 8. Mulai dari latihan gabungan dengan anak SMP lain yang juga mengikuti kegiatan PMR tersebut, berkumpul-kumpul dengan sesama Dewan PMR,canda tawa saat penyampaian materi oleh kakak-kakak pembina. Itu semua semakin lama semakin pudar karena kesibukan kesibukan kelas 9 di dalam pelajaran akademik.

Di hati kecil saya terselinap dan semakin meneguhkan hati bahwa saya ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain, tepatnya menjadi seorang relawan di PMI dengan hati yang ihlas dan tulus. Berawal dari ketidaksukaan terhadap PMR dan terdorong karena jasa kakakku aku menjadi senang terhadap semua kegiatan yang ada di PMR maupun PMI. Aku senang dan bangga terhadap sekarang tanpa memikirkan apa yang dulu pernah aku rasakan ketidaksukaan.
Mungkin hanya cukup sekian yang dapat aku ceritakan, melihat keadaan waktu yang menipis walaupun sebenarnya masih banyak pengalaman yang bisa aku ceritakan. Mohon maaf apabila terselinap kata yang tidak mengenakkan hati para juri. Terima kasih dan sampai jumpa.

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

Irma Suryati: Sosok Pejuang Kemanusiaan Sejati – Bagian I

Sehari jelang Idul Fitri 1435 H, udara malam itu terasa cukup hangat. Di antara rasa lelah dan kantuk, bersama Ketua Panitia Pelaksana Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014, Wisnu Darmaji yang orang Gombong, saya berboncengan menuju kediaman, showroom Mutiara Handycraft, tempat produksi aneka produk perca kualitas ekspor serta asrama para pekerja yang kesemuanya penyandang cacat tubuh. Kami disambut hangat oleh Ibu Irma Suryati (39). Setelah bersalaman dan sedikit basa-basi, kami mengutarakan maksud kedatangan kepada beliau. Seolah tanpa beban yang semula menjadi ganjalan berat dalam benak saya beberapa hari terakhir, begitu berkomunikasi dengan sosok wanita yang menurut saya jauh lebih hebat dari Margareth Tacher “si wanita besi”, mantan perdana menteri Inggris, semua kepenatan tadi kemudian sirna setelah Ibu Irma menyatakan siap “memborong” seluruh sisa stand Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat dalam rangkaian kegiatan KBN. Tanpa rasa sungkan, kami berucap “ alhamdulillah “. Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Plong… hilang satu beban pikiran yang cukup mengganggu ini. Berkali-kali katakan kepada Wisnu, inilah ” blessing in disguish (hikmat yang tersembunyi” dari silaturahmi. Apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah, ampunan dan manfaat. Berkah Ramadhan 1435 H benar-benar kami rasakan dalam menyempurnakan ihtiar dari satu niat tulus mendukung dan menguatkan organisasi kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) sesuai tujuan berdirinya KampoengRelawan meski dalam bayang-bayang sinisme orang-orang yang tak pernah rela akan kelebihan atas kemampuan orang lain,

Begitu topik Kewirausahaan Sosial dibuka, pembicaraan kami jadi lebih hangat. Antusiasme Ibu Irman tercermin dari isi pembicaraan yang kian berbobot. Kemudian satu dua peristiwa sejarah perjalanan usahanya di bidang produksi, distribusi dan pengembangan kerajinan kain percanya. Kebanyakan hal yang terlontar dari ceritanya adalah gambaran yang selama lima belas tahun lalu pernah saya sampaikan kepada teman-teman pendamping program ekonomi dalam Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM) yang konon didanai dari bantuan Bank Dunia di masa awal era reformasi. Banyak kesamaan yang kami rasakan dalam mengupayakan penguatan ekonomi kerakyatan. Tapi harus diakui bahwa semangat juang dan daya tahan beliau jauh lebih kuat dibanding saya yang dianugerahi tubuh sempurna, kesempatan mengenyam pendidikan yang jauh lebih baik dan maju serta yang membuat saya harus menertawakan diri adalah semangat juang ibu lima anak ini jauh lebih hebat dari anak keturunan Pelajar Pejuang Kemerdekaan (Tentara pelajar) yang selama ini menjadi modal besar untuk menopang pilihan di jalur wirausaha. Pelajar penting yang saya terima dari beliau adalah kepercayaan diri adalah modal utama berwirausaha. Dan kepedulian kepada sesama merupakan tiang penyangganya. Tanpa sedikitpun nada menggurui, apalagi menyombongkan diri, Ibu Irma Suryati menjelaskan secara singkat betapa pemerintah belum mampu mewujudkan amanat kemerdekaan Bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kaum cacat seperti dirinya senantiasa dipandang sebelah mata, diperlakukan diskriminatif dan acapkali hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sektarian sempit.

Betapa dirinya acapkali menerima perlakuan tidak manusiawi dari orang-orang dan lembaga yang  diberi amanat konstitusional tadi. Bagaimana mungkin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat diwujudkan jika perlakuan kaum berketerbatasan fisik (difabel) seperti dirinya lebih sering di- “belas-kasihani” ketimbang diberi kesempatan sama selaku warga negara di negara yang meraih kemerdekaannya dengan berjuang – berjuang dan berjuang dengan segenap daya serta pengorbanan? Dan banyak pertanyaan serupa yang intinya memberitahu kami bahwa meski telah berulangkali membuktikan kapabilitasnya sebagai petarung tangguh di dunia bisnis dan sosial. Tapi selalu saja ada manusia berwatak penjajah atau meniru watak penjajah yang ketika diberi amanat selalu membiarkan berlalu tanpa makna. Tak ada perasaan bersalah, apalagi malu kepada para syuhada yang menyabung nyawa untuk kemerdekaan bangsanya. Manusia itu, sering saya sebut sebagai inlander, sebenarnya telah kehilangan nurani meski sangat mungkin masih punya akal.

Dunia bisnis, khususnya wirausaha sosial, sebenarnya merupakan perwujudan amanat konstitusi : memajukan kesejahteraan umum. Dan sesuai dasar ideologi Negara Indonesia, Pancasila, kewirausahaan sosial yang intinya merupakan kegiatan wirausaha dengan orientasi untuk menjawab masalah sosial mendasar di lingkungannya adalah jalan terbaik dalam mengupayakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Satu ciri utama pelaku wirausaha adalah semangat juang yang pantang menyerah. Tak akan mundur sebelum pertempuran usai. Pertempuran itu akan berujung pada eksistensi, jati diri. Apakah dia pejuang sejati atau sekadar coba-coba untuk menghindari dari sebutan “pengangguran”. Kewirausahaan adalah proses pengkondisian diri yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang berjiwa ksatria dan merdeka. Karena itu, pelaku wirausaha sosial tak cocok bagi para pengekor. Dia harus seorang pemimpin dan inovator. Cara ini telah dibuktikan oleh Ibu Irma Suryati bagi kaumnya para penyandang cacat fisik (kaum difabel), penyandang masalah sosial dan mantan buruh migran.

Setelah berupaya lebih dari satu dasawarsa, Kabupaten Kebumen tak lagi mampu mengimbangi langkahnya, Bukan karena telah mencapai tujuan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi (Mukadimah UUD 1945). Menurut penuturan penyandang SCTV Award 2012 dan 2013 ini, faktor utamanya adalah iklim yang tak lagi kondusif. Kondisinya telah mencapai titik jenuh. Kondisi kemiskinan di kabupaten termiskin ke 3 di Provinisi Jawa Tengah (BPS, 2010) tak banyak berubah posisinya. Prosentase penduduk miskin dalam 5 tahun terakhir masih di atas 20 % (2008 – 2012). Bahkan di tahun kedua kepemimpinan Bupati H. Buyar Winarso, SE (2011) sempat mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 22,70 % (2010) menjadi 24,06 (2011) dan turun lagi menjadi 22,40 (Juli, 2012).  (bersambung)


Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat - II

Banyak potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen yang termasuk dalam kategori kerajinan. Selain pandan yang memang telah dikenal luas dan punya pangsa pasar khusus, ada kegiatan usaha kerajinan pengolahan limbah industri konveksi kaos dan sejenisnya menjadi beragam produk kesed berorientasi pasar ekspor oleh Mutiara Handycraft yang dikordinasikan oleh Ibu Irma Suryanti, sang pemenang SCTV Award 2012 dan beragam penghargaan baik lokal, nasional maupun internasional. Di samping memberdayakan kaum difable di sekitar Provinsi Jawa Tengah, beliau juga mengangkat derajat para buruh migran dan eks Penyandang Masalah Sosial dari berbagai wilayah. Dalam banyak hal, Mutiara Handycraft dapat dikategorikan sebagai pelaku wirausaha sosial yang cukup sukses. Realitas ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, khususnya di luar Provinsi Jawa Tengah.

Oleh karena itu, dengan menggandeng Mutiara Handicraft baik di arena Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat maupun dalam ruang Sarasehan Kewirausahaan Sosial yang akan menampilkan satu pelopor bidang ini di tingkat nasional yakni Yayasan Rumah Perubahan Prof. Dr. Rhenald Kasali, kegiatan multi event Karya Bakti untuk Negeri ini akan memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi akan hadir pula sosok Astri Sulastri Thalib dari Satgana Store Bekasi yang akan menggelar produk-produk busana unggulan yang telah dikenal luas di lingkungan PMI, maka kegiatan Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat ini bukan sekadar label tanpa isi.  Sandingan yang cukup unik dari dua perempuan hebat diharapkan menampilkan kekhasan kegiatan yang akan digelar selama 6 hari di halaman depan Kampus STIKes Muhammadiyah Gombong tersebut.

Seni pertunjukan yang sangat mungkin dilakukan di lingkungan yang tenang adalah pentas teater dan parade baca puisi dari beragam komunitas yang ada di Kebumen dan sekitarnya. Demikian pula dengan beberapa potensi seni pertunjukan dari berbagai sekolah atau madrasah dan peguruan tinggi yang aktif melaksanakan kegiatan kepalangmerahan. Pentas seni pertunjukan ini adalah spontanitas. Panitia Pelaksana akan memfasilitasi ruang dan waktu yang sesuai dengan tujuan kegiatan maupun kondisi lingkungan sekitar.

Yang tak kalah seru dari kegiatan yang dirancang dan ditata-laksanakan sendiri oleh para sukarelawan PMI dari berbagai potensi ini adalah Pameran Fotografi dan Video Kepalangmerahan yang akan diselingi dengan kegiatan diseminasi oleh beberapa diseminator nasional dari berbagai provinsi yang hadir dalam kegiatan KBN 2014. Dengan jam terbang memadai dan teknik presentasi yang variatif, para penyebar gagasan mulia Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Gerakan) akan menampilkan suasana yang sangat berbeda dari biasanya.

Potensi pengisi Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat ini diprakirakan akan sangat beragam dan unik. Karena itu, Panitia Pelaksana akan menyediakan Angkringan Relawan yang di salah satu sudutnya dapat dipakai sebagai ajang negosiasi bisnis. Demikian pula tiga buah gazebo yang akan ditata sebagai tempat Lesehan Bisnis bagi yang menghendakinya. Hal ini sesuai dengan kebiasaan relawan PMI di lapangan bencana yang senantiasa mengaplikasikan pesan bijak dan kreatif “ tiada rotan, akarpun jadi”.  Suasana yang sangat mungkin tidak akan ditemukan di tempat dan suasana lain. Angkringan Relawan dirancang sebagai perpaduan antara subsektor kuliner (utama), kerajinan dan arsitektur dalam gaya rumah panggung berbahan dasar bambu.

Angkringan Relawan adalah media multi fungsi. Selain menjadi ajang kuliner yang akan menyajikan menu khas pada waktu tertentu, tempat lobbying bisnis, juga akan merupakan tempat bertukar ilmu maupun pengalaman antar peserta Bazar, sukarelawan maupun dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan-kegiatan kepalangmerahan serta kewirausahaan. Meski relatif kecil, dengan penataan jadwal “pengisian” yang tertata diharapkan akan merupakan ajang unjuk inisiatif dan kreativitas, khususnya bagi peserta baik dari sekitar Kabupaten Kebumen maupun berbagai provinisi yang hadir di dalam kegiatan Karya Bakti untuk Negeri 2014.  


Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI - BAGIAN II



Sampai akhir tahun 2013, proses perjalanan #RUUKepalangmerahan masih mengambang. Konsentrasi para pegiat lapangan tertuju pada kejadian bencana di berbagai wilayah. Erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, banjir di DKI Jakarta, erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur dan meningkatnya aktivitas vulkanik beberapa gunung berapi serta berbagai kejadian bencana di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa menyita sebagian besar titik perhatian sukarelawan PMI sampai triwulan pertama tahun 2014. Setelah proses penanggulangan bencana di atas relatif minimal, awal April dimunculkan kembali rencana Rembug Relawan PMI yang sedianya akan dilaksanakan di Pulau Bali sebagaimana disepakati oleh peserta Rembug di Bantul pada 24 – 26 Mei 2013.

Setelah melalui proses diskusi yang cukup panjang dan berliku, akhirnya disepakati bahwa Kabupaten Kebumen diberikan kesempatan menjadi lokasi Rembug Relawan II mengingat di tahun sama Provinsi Bali akan menjadi tuan rumah untuk beberapa kegiatan PMI berskala nasional.

Atas rencana tersebut, warga KampoengRelawan yang berdomisili di Kabupaten Kebumen coba melakukan pemetaan awal (assesment sederhana). Langkah awal adalah ”menyebar issue positif” seputar tindak lanjut proses diskusi di atas, merekrut para sukarelawan yang se-ide dan menyusun Rencana Pendahuluan. Hasil pemetaan awal, calon lokasi kegiatan yang masih bertajuk ”Rembug Relawan Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI” ada dua pilihan.

SMP Negeri 2 Adimulyo yang selama ini konsisten menyelenggaralan pembinaan sukarelawan remaja, Palang Merah Remaja (PMR) Madya. Hal ini tak lepas dari kegigihan Ibu Herlina, SPd., selaku Pembina selama lebih dari satu dasawarsa. Apalagi saat ini beliau adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, lengkap sudah alasan untuk menjadikan sekolah yang lokasi di sekitarnya merupakan wilayah rawan bencana banjir di Kecamatan Adimulyo. Ditambah dengan adanya Program Sekolah Siaga Bencana (SSB) di sekolah itu yang merupakan kerja sama antara PMI dan Palang Merah Jerman dua tahun lalu.  Maka, tak salah jika SMP Negeri 2 Adimulyo adalah calon kuat lokasi Rembug Relawan II di Kabupaten Kebumen.

Calon lokasi kedua adalah SMA Negeri II Kebumen yang berada di sekitar Kota Kebumen. Kegiatan pembinaan sukarelawan remaja PMI di Pangkalan sekolah ini cukup intensif, akses ke lokasi sangat mudah, punya Gedung Pertemuan yang sangat representatif dan terpenting adalah keberadaan Bapak Widodo, SPd., selaku Pembina serta Ketua Forum Guru Pembina PMR Madya dan Wira se Kabupaten Kebumen. Dengan kondisi tersebut, kami beranggapan bahwa calon lokasi ini tak perlu disurvey.

Proses persiapan terus berjalan. Para sukarelawan yang kebanyakan telah bekerja di berbagai bidang meningkatkan upaya konsolidatif melalui komunikasi dan pendekatan personal. Kemudian muncul nama-nama ”orang lama” diantaranya Iksanudin Maskuri, Adi Suroto, Kuswanto, Agus Ramelan dan Misbahul Munir. Suatu saat, setelah dikenalkan dengan ”orang baru” dari STIKes Muhammadiyah Gombong, Wisnu Darmaji, setelah melakukan beberapa kali pertemuan antar personal, saya diajak oleh Agus Ramelan melihat langsung Invitasi PMR Wira yang diselenggarakan  Kampus STIKes Muhammadiyah Gombong pada Minggu, 18 Mei 2014. Pada kegiatan ini saya dipertemukan dengan Pembina KSR Unit Perguruan Tinggi setempat yang kebetulan ada hubungan keluarga, mas Bambang Udoyo. Kepadanya, saya menceritakan ihwal rencana kedatangan dr. Seno Suharyo dari Surabaya yang akan melakukan survey lokasi dan menguatkan langkah yang telah dilakukan oleh teman-teman di Kebumen dalam rangka menyambut para tamu sukarelawan PMI se Indonesia pada kegiatan yang kemudian diberi nama KARYA BAKTI UNTUK NEGERI. (bersambung)


Survey Lokasi Pertama- Adi Suroto & Ibu Herlina

Lapangan Belakang SMPN 2 Adimulyo

Halaman upacara/ Lapangan Volley/ Baket SMPN 2 Adimulyo

Lingkungan kelas di SMPN2 Adimulyo

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Kewirausahaan Sosial Pada Kegiatan Ekonomi Berbasis Komunitas (1)


Selayang Pandang

Menyambut datangnya sang fajar baru di tengah arena Rembug Relawan PMI ke 2 yang direncanakan akan berlangsung 15-17 Agustus 2014 di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah yang di dalamnya akan ada Seminar atau Sarasehan Kewirausahaan Sosial, saya ingin menyampaikan beberapa pokok pikiran. Tema kewirausahaan diangkat sebagai satu issue besar karena potensi kewirausahaan yang ada di dalam Komunitas SukaRelawan PMI sangat besar dan belum digarap dengan sistematis. 

Tujuan utama pembahasan adalah untuk memetakan potensi kekuatan para SukaRelawan PMI yang selama ini telah membuktikan konsistensi memelihara sikap mandiri sesuai Prinsip Dasar Kemandirian dalam Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Perhimpunan Nasional kepalangmerahan (PMI) adalah organisasi kemanusiaan yang berbasis kesukarelaan dan partisipasi masyarakat (volunteersm and community base). Memasuki era baru pasca Musyawarah Nasional 2014, SukaRelawan PMI harus mampu menjadi tulang punggung selain sebagai ujung tombak dan agen perubahan dalam organisasi PMI masa depan. Kewirausahaan sosial merupakan sebuah usulan terpilih karena memenuhi kriteria itu.

Tulisan ini disusun berseri dan akan menjadi satu dari beberapa bahan tulisan yang akan dipaparkan oleh pemrasaran lain dalam seminar atau sarasehan nanti. Semoga bermanfaat.

Kebumen, 11 April 2014

Komunitas Relawan PMI Sosial Media
KampoengRelawan  

Tetua Adat

Toto Karyanto

1.     Pengantar Diskusi

Kewirausahaan Sosial atau Social-preneurship adalah konsep kewirausahaan umum (entrepreneurship) yang mendapat muatan sosial di dalamnya. Selama ini, kita mengenal kewirausaha merupakan pendekatan ekonomi yang digunakan untuk mengatasi masalah pengangguran dan menggiatkan partisipasi warga masyarakat secara individual dalam menggali serta menguatkan sumber daya internalnya dalam suatu kegiatan ekonomi bernilai tambah.
Dalam pendekatan kewirausahaan sosial, warga masyarakat diharapkan berhimpun dalam kelompok-kelompok kecil (5 – 25 orang), sedang ( >25 – 50) dan besar >50 orang. Biasanya, ada satu atau beberapa orang yang bertindak sebagai pemimpin karena memiliki sumber daya memadai di bidang intelektual (gagasan, konsep, metode, sistem), dana dan akses produksi maupun pasar. Para pemimpin itu bertindak sebagai pembuka jalan, pembimbing (motivator), pelatih dan sebagainya.
Sampai saat ini konsep dasar kewirausahaan sosial masih berkembang sesuai situasi dan kondisi lingkungannya.  Pada umumnya, seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri, serta meningkatkan daya beli pelakunya. Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.
 Pakar ekonomi Dr. Rhenald Kasali, pernah mengatakan bahwa dampak globalisasi menjadikan keanggotaan suku/ komunitas manusia tidak lagi ditandai oleh aspek regional atau kewilayahan. Namun justru oleh grup atau kelompok-kelompok di jejaring digital seperti facebook, twitter  dan semacamnya. Hal itu tentu bukan tanpa alasan. Seperti kita bisa saksikan sehari-hari, generasi masa kini, jauh lebih sering dan intens berhubungan dengan rekan-rekan di dunia maya-nya dibandingkan dengan lingkungan sosial di sekitar rumahnya. Sehingga seakan-akan suku atau anggota keluarga mereka adalah kelompok dalam jejaring sosial tersebut, yang dapat terdiri dari invididu-individu yang terpisah ratusan kilometer. Informasi mengalir dan senantiasa terbarukan (update). Potensi semakin redupnya budaya bangsa dan budaya daerah kita sendiri cenderung menguat. Dengan kata lain, generasi muda Indonesia terancam menjadi tamu bagi budayanya sendiri, karena mereka mungkin jauh lebih hafal dan fasih budaya dan gaya hidup dari negeri seberang.
Ada dua sektor kegiatan ekonomi yang berbasis budaya. Pertama, OVOP (One Village One Product). Pendekatan sistem pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan budaya yang mengesplorasi sumber-sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi dan berdaya jangkau global. Pendekatan ini digagas dan dikembangkan oleh Gubernur Perfektur Oita, Dr. Morihiko Hiramatsu. Berbekal pengalaman bekerja di MITI Jepang, beliau mengubah pendekatan klasikal GNP dengan GNS (Gross National Satisfaction). Inilah yang menjadi dasar semangat OVOP. Dari maksi menjadi mini. Kini, hampir semua anggota Asean telah mengaplikasikan pendekatan ini dengan cara dan metoda yang berbeda. Misalnya, Thailand yang memanfaatkan internet masuk sampai tingakat desa agar informasi kegiatan ekonomi produktif warganya senantiasa terbarukan.
Kedua, pengembangan potensi ekonomi berbasis kreativitas yang dikenal dengan nama ekonomi atau industri kreatif. Ada 15 subsektor yang tercakup di dalamnya yaitu kerajinan, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, permainan kreatif, TIK, busana, fotografi-video-film, radio dan televisi, pasar barang seni, percetakan dan penerbitan, riset dan pengembangan serta kuliner.  Volume, sebaran dan kontribusi kegiatan ekonomi kreatif ini cenderung kian meningkat. Apalagi dengan hadirnya pusat-pusat (kota) kreatif dan Sentra Kreatif Rakyat yang memadukan aktivitas pariwisata dan pengembangan aktivitas ekonomi berbasis budaya lokal.
Kawasan Perdagangan Bebas Asean (AFTA) 2015 sudah ada di depan pintu rumah kita, Indonesia. Banyak pihak telah bersiap diri menyambutnya. Pemerintah menyatakan optimis kita akan mampu melalui perjalanan awalnya karena berbagai persiapan telah dilakukan. Sementara itu, dunia usaha melalui Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, justru bersikap sebaliknya. Terlepas dari kontroversi tadi, sebagai warga masyarakat umum, kita boleh bersikap apapun. Dan kondisi apapun yang akan terjadi di dalam rumah Indonesia kelak, kita harus siap dengan risikonya.
AFTA atau ada juga yang menyebut ACFTA (Asean dan China) adalah sebuah momentum yang berpeluang menggerakkan beragam potensi ekonomi kreatif masyarakat. Subsektor industri (ekonomi) kreatif itu merupakan salah satu strategi pembangunan ekonomi dan industri yang bisa diandalkan selain sektor manufaktur dan jasa. Apalagi, industri berbasis ide, teknologi, seni, dan kekayaan intelektual itu memiliki banyak sentra industri kreatif yang potensial. Misalnya, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Bali, dan lainnya.
Dirjen Pengembangan Ekonomi Nasional Kementerian Perdagangan Hesti Indah Kresnarini mengutarakan, industri kreatif akan berkembang pesat setiap tahunnya. Pertumbuhannya dominan dikontribusi fesyen dan kerajinan. Pemerintah memiliki cetak biru pengembangan industri berbasis ide yang terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, periode 2010-2015, disebut tahap penguatan ditargetkan bisa tumbuh sekitar 11%-12% setiap tahunnya. Sementara tahap kedua, periode 2016-2025, disebut tahap akselerasi diharapkan bisa tumbuh sekitar 12%-13%. [1].
Berdasarkan angka statistik, pada 2013 lalu kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian sebesar Rp 641,8 triliun atau mencapai 7% PDB nasional. Ekonomi Kreatif juga mencatat surplus perdagangan selama periode 2010 hingga 2013 dengan nilai surplus sebesar Rp 118 T. Kontribusi devisa dari sektor ekonomi kreatif mencapai 11, 89 Milyar USD, sehingga secara total sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyumbang devisa sebesar 21,95 Milyar USD atau berkontribusi sebesar 11,04% pada total devisa Indonesia. [2].
Bagaimana dengan perkembangan OVOP di Indonesia? Sampai saat ini masih terdapat kesulitan memperoleh data aktual yang dapat diandalkan baik dari Kementerian Koperasi dan UMKM maupun Badan Pusat Statistik. Sehingga tidak ada data pembanding yang dapat dipakai untuk membuat prediksi maupun analisis, minimal dengan pendekatan SWOT (strenght, weakness, opportunity and threath). Kalaupun ada data yang dapat digunakan, biasanya berasal dari data sekunder atau tersier yang akurasinya tidak memadai.
Meski demikian, ada keyakinan bahwa OVOP adalah satu pendekatan ekonomi yang memiliki banyak kelebihan. Terutama berkaitan dengan potensi mengangkat dan mengembangkan produk-produk lokal berbasis budaya yang mampu bersaing di pasar global. OVOP seperti halnya ekonomi kreatif, saat ini ditangani oleh sedikitnya 3 (tiga) kementerian yaitu Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Patiwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Perindustrian dalam kordinasi kewenangan Kemenkop dan UMKM.

Posted in , , , , , , , , , , , , | Leave a comment