Tampilkan postingan dengan label Agustus 2014. Tampilkan semua postingan

Irma Suryati: Sosok Pejuang Kemanusiaan Sejati – Bagian I

Sehari jelang Idul Fitri 1435 H, udara malam itu terasa cukup hangat. Di antara rasa lelah dan kantuk, bersama Ketua Panitia Pelaksana Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014, Wisnu Darmaji yang orang Gombong, saya berboncengan menuju kediaman, showroom Mutiara Handycraft, tempat produksi aneka produk perca kualitas ekspor serta asrama para pekerja yang kesemuanya penyandang cacat tubuh. Kami disambut hangat oleh Ibu Irma Suryati (39). Setelah bersalaman dan sedikit basa-basi, kami mengutarakan maksud kedatangan kepada beliau. Seolah tanpa beban yang semula menjadi ganjalan berat dalam benak saya beberapa hari terakhir, begitu berkomunikasi dengan sosok wanita yang menurut saya jauh lebih hebat dari Margareth Tacher “si wanita besi”, mantan perdana menteri Inggris, semua kepenatan tadi kemudian sirna setelah Ibu Irma menyatakan siap “memborong” seluruh sisa stand Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat dalam rangkaian kegiatan KBN. Tanpa rasa sungkan, kami berucap “ alhamdulillah “. Puji syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Plong… hilang satu beban pikiran yang cukup mengganggu ini. Berkali-kali katakan kepada Wisnu, inilah ” blessing in disguish (hikmat yang tersembunyi” dari silaturahmi. Apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah, ampunan dan manfaat. Berkah Ramadhan 1435 H benar-benar kami rasakan dalam menyempurnakan ihtiar dari satu niat tulus mendukung dan menguatkan organisasi kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) sesuai tujuan berdirinya KampoengRelawan meski dalam bayang-bayang sinisme orang-orang yang tak pernah rela akan kelebihan atas kemampuan orang lain,

Begitu topik Kewirausahaan Sosial dibuka, pembicaraan kami jadi lebih hangat. Antusiasme Ibu Irman tercermin dari isi pembicaraan yang kian berbobot. Kemudian satu dua peristiwa sejarah perjalanan usahanya di bidang produksi, distribusi dan pengembangan kerajinan kain percanya. Kebanyakan hal yang terlontar dari ceritanya adalah gambaran yang selama lima belas tahun lalu pernah saya sampaikan kepada teman-teman pendamping program ekonomi dalam Lembaga Ekonomi Produktif Masyarakat Mandiri (LEPMM) yang konon didanai dari bantuan Bank Dunia di masa awal era reformasi. Banyak kesamaan yang kami rasakan dalam mengupayakan penguatan ekonomi kerakyatan. Tapi harus diakui bahwa semangat juang dan daya tahan beliau jauh lebih kuat dibanding saya yang dianugerahi tubuh sempurna, kesempatan mengenyam pendidikan yang jauh lebih baik dan maju serta yang membuat saya harus menertawakan diri adalah semangat juang ibu lima anak ini jauh lebih hebat dari anak keturunan Pelajar Pejuang Kemerdekaan (Tentara pelajar) yang selama ini menjadi modal besar untuk menopang pilihan di jalur wirausaha. Pelajar penting yang saya terima dari beliau adalah kepercayaan diri adalah modal utama berwirausaha. Dan kepedulian kepada sesama merupakan tiang penyangganya. Tanpa sedikitpun nada menggurui, apalagi menyombongkan diri, Ibu Irma Suryati menjelaskan secara singkat betapa pemerintah belum mampu mewujudkan amanat kemerdekaan Bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kaum cacat seperti dirinya senantiasa dipandang sebelah mata, diperlakukan diskriminatif dan acapkali hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sektarian sempit.

Betapa dirinya acapkali menerima perlakuan tidak manusiawi dari orang-orang dan lembaga yang  diberi amanat konstitusional tadi. Bagaimana mungkin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat diwujudkan jika perlakuan kaum berketerbatasan fisik (difabel) seperti dirinya lebih sering di- “belas-kasihani” ketimbang diberi kesempatan sama selaku warga negara di negara yang meraih kemerdekaannya dengan berjuang – berjuang dan berjuang dengan segenap daya serta pengorbanan? Dan banyak pertanyaan serupa yang intinya memberitahu kami bahwa meski telah berulangkali membuktikan kapabilitasnya sebagai petarung tangguh di dunia bisnis dan sosial. Tapi selalu saja ada manusia berwatak penjajah atau meniru watak penjajah yang ketika diberi amanat selalu membiarkan berlalu tanpa makna. Tak ada perasaan bersalah, apalagi malu kepada para syuhada yang menyabung nyawa untuk kemerdekaan bangsanya. Manusia itu, sering saya sebut sebagai inlander, sebenarnya telah kehilangan nurani meski sangat mungkin masih punya akal.

Dunia bisnis, khususnya wirausaha sosial, sebenarnya merupakan perwujudan amanat konstitusi : memajukan kesejahteraan umum. Dan sesuai dasar ideologi Negara Indonesia, Pancasila, kewirausahaan sosial yang intinya merupakan kegiatan wirausaha dengan orientasi untuk menjawab masalah sosial mendasar di lingkungannya adalah jalan terbaik dalam mengupayakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Satu ciri utama pelaku wirausaha adalah semangat juang yang pantang menyerah. Tak akan mundur sebelum pertempuran usai. Pertempuran itu akan berujung pada eksistensi, jati diri. Apakah dia pejuang sejati atau sekadar coba-coba untuk menghindari dari sebutan “pengangguran”. Kewirausahaan adalah proses pengkondisian diri yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang berjiwa ksatria dan merdeka. Karena itu, pelaku wirausaha sosial tak cocok bagi para pengekor. Dia harus seorang pemimpin dan inovator. Cara ini telah dibuktikan oleh Ibu Irma Suryati bagi kaumnya para penyandang cacat fisik (kaum difabel), penyandang masalah sosial dan mantan buruh migran.

Setelah berupaya lebih dari satu dasawarsa, Kabupaten Kebumen tak lagi mampu mengimbangi langkahnya, Bukan karena telah mencapai tujuan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi (Mukadimah UUD 1945). Menurut penuturan penyandang SCTV Award 2012 dan 2013 ini, faktor utamanya adalah iklim yang tak lagi kondusif. Kondisinya telah mencapai titik jenuh. Kondisi kemiskinan di kabupaten termiskin ke 3 di Provinisi Jawa Tengah (BPS, 2010) tak banyak berubah posisinya. Prosentase penduduk miskin dalam 5 tahun terakhir masih di atas 20 % (2008 – 2012). Bahkan di tahun kedua kepemimpinan Bupati H. Buyar Winarso, SE (2011) sempat mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 22,70 % (2010) menjadi 24,06 (2011) dan turun lagi menjadi 22,40 (Juli, 2012).  (bersambung)


Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat - II

Banyak potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Kebumen yang termasuk dalam kategori kerajinan. Selain pandan yang memang telah dikenal luas dan punya pangsa pasar khusus, ada kegiatan usaha kerajinan pengolahan limbah industri konveksi kaos dan sejenisnya menjadi beragam produk kesed berorientasi pasar ekspor oleh Mutiara Handycraft yang dikordinasikan oleh Ibu Irma Suryanti, sang pemenang SCTV Award 2012 dan beragam penghargaan baik lokal, nasional maupun internasional. Di samping memberdayakan kaum difable di sekitar Provinsi Jawa Tengah, beliau juga mengangkat derajat para buruh migran dan eks Penyandang Masalah Sosial dari berbagai wilayah. Dalam banyak hal, Mutiara Handycraft dapat dikategorikan sebagai pelaku wirausaha sosial yang cukup sukses. Realitas ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas, khususnya di luar Provinsi Jawa Tengah.

Oleh karena itu, dengan menggandeng Mutiara Handicraft baik di arena Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat maupun dalam ruang Sarasehan Kewirausahaan Sosial yang akan menampilkan satu pelopor bidang ini di tingkat nasional yakni Yayasan Rumah Perubahan Prof. Dr. Rhenald Kasali, kegiatan multi event Karya Bakti untuk Negeri ini akan memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi akan hadir pula sosok Astri Sulastri Thalib dari Satgana Store Bekasi yang akan menggelar produk-produk busana unggulan yang telah dikenal luas di lingkungan PMI, maka kegiatan Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat ini bukan sekadar label tanpa isi.  Sandingan yang cukup unik dari dua perempuan hebat diharapkan menampilkan kekhasan kegiatan yang akan digelar selama 6 hari di halaman depan Kampus STIKes Muhammadiyah Gombong tersebut.

Seni pertunjukan yang sangat mungkin dilakukan di lingkungan yang tenang adalah pentas teater dan parade baca puisi dari beragam komunitas yang ada di Kebumen dan sekitarnya. Demikian pula dengan beberapa potensi seni pertunjukan dari berbagai sekolah atau madrasah dan peguruan tinggi yang aktif melaksanakan kegiatan kepalangmerahan. Pentas seni pertunjukan ini adalah spontanitas. Panitia Pelaksana akan memfasilitasi ruang dan waktu yang sesuai dengan tujuan kegiatan maupun kondisi lingkungan sekitar.

Yang tak kalah seru dari kegiatan yang dirancang dan ditata-laksanakan sendiri oleh para sukarelawan PMI dari berbagai potensi ini adalah Pameran Fotografi dan Video Kepalangmerahan yang akan diselingi dengan kegiatan diseminasi oleh beberapa diseminator nasional dari berbagai provinsi yang hadir dalam kegiatan KBN 2014. Dengan jam terbang memadai dan teknik presentasi yang variatif, para penyebar gagasan mulia Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Gerakan) akan menampilkan suasana yang sangat berbeda dari biasanya.

Potensi pengisi Bazar Relawan dan Potensi Kreatif Rakyat ini diprakirakan akan sangat beragam dan unik. Karena itu, Panitia Pelaksana akan menyediakan Angkringan Relawan yang di salah satu sudutnya dapat dipakai sebagai ajang negosiasi bisnis. Demikian pula tiga buah gazebo yang akan ditata sebagai tempat Lesehan Bisnis bagi yang menghendakinya. Hal ini sesuai dengan kebiasaan relawan PMI di lapangan bencana yang senantiasa mengaplikasikan pesan bijak dan kreatif “ tiada rotan, akarpun jadi”.  Suasana yang sangat mungkin tidak akan ditemukan di tempat dan suasana lain. Angkringan Relawan dirancang sebagai perpaduan antara subsektor kuliner (utama), kerajinan dan arsitektur dalam gaya rumah panggung berbahan dasar bambu.

Angkringan Relawan adalah media multi fungsi. Selain menjadi ajang kuliner yang akan menyajikan menu khas pada waktu tertentu, tempat lobbying bisnis, juga akan merupakan tempat bertukar ilmu maupun pengalaman antar peserta Bazar, sukarelawan maupun dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan-kegiatan kepalangmerahan serta kewirausahaan. Meski relatif kecil, dengan penataan jadwal “pengisian” yang tertata diharapkan akan merupakan ajang unjuk inisiatif dan kreativitas, khususnya bagi peserta baik dari sekitar Kabupaten Kebumen maupun berbagai provinisi yang hadir di dalam kegiatan Karya Bakti untuk Negeri 2014.  


Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI - BAGIAN II



Sampai akhir tahun 2013, proses perjalanan #RUUKepalangmerahan masih mengambang. Konsentrasi para pegiat lapangan tertuju pada kejadian bencana di berbagai wilayah. Erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara, banjir di DKI Jakarta, erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur dan meningkatnya aktivitas vulkanik beberapa gunung berapi serta berbagai kejadian bencana di Pulau Jawa maupun luar Pulau Jawa menyita sebagian besar titik perhatian sukarelawan PMI sampai triwulan pertama tahun 2014. Setelah proses penanggulangan bencana di atas relatif minimal, awal April dimunculkan kembali rencana Rembug Relawan PMI yang sedianya akan dilaksanakan di Pulau Bali sebagaimana disepakati oleh peserta Rembug di Bantul pada 24 – 26 Mei 2013.

Setelah melalui proses diskusi yang cukup panjang dan berliku, akhirnya disepakati bahwa Kabupaten Kebumen diberikan kesempatan menjadi lokasi Rembug Relawan II mengingat di tahun sama Provinsi Bali akan menjadi tuan rumah untuk beberapa kegiatan PMI berskala nasional.

Atas rencana tersebut, warga KampoengRelawan yang berdomisili di Kabupaten Kebumen coba melakukan pemetaan awal (assesment sederhana). Langkah awal adalah ”menyebar issue positif” seputar tindak lanjut proses diskusi di atas, merekrut para sukarelawan yang se-ide dan menyusun Rencana Pendahuluan. Hasil pemetaan awal, calon lokasi kegiatan yang masih bertajuk ”Rembug Relawan Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI” ada dua pilihan.

SMP Negeri 2 Adimulyo yang selama ini konsisten menyelenggaralan pembinaan sukarelawan remaja, Palang Merah Remaja (PMR) Madya. Hal ini tak lepas dari kegigihan Ibu Herlina, SPd., selaku Pembina selama lebih dari satu dasawarsa. Apalagi saat ini beliau adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, lengkap sudah alasan untuk menjadikan sekolah yang lokasi di sekitarnya merupakan wilayah rawan bencana banjir di Kecamatan Adimulyo. Ditambah dengan adanya Program Sekolah Siaga Bencana (SSB) di sekolah itu yang merupakan kerja sama antara PMI dan Palang Merah Jerman dua tahun lalu.  Maka, tak salah jika SMP Negeri 2 Adimulyo adalah calon kuat lokasi Rembug Relawan II di Kabupaten Kebumen.

Calon lokasi kedua adalah SMA Negeri II Kebumen yang berada di sekitar Kota Kebumen. Kegiatan pembinaan sukarelawan remaja PMI di Pangkalan sekolah ini cukup intensif, akses ke lokasi sangat mudah, punya Gedung Pertemuan yang sangat representatif dan terpenting adalah keberadaan Bapak Widodo, SPd., selaku Pembina serta Ketua Forum Guru Pembina PMR Madya dan Wira se Kabupaten Kebumen. Dengan kondisi tersebut, kami beranggapan bahwa calon lokasi ini tak perlu disurvey.

Proses persiapan terus berjalan. Para sukarelawan yang kebanyakan telah bekerja di berbagai bidang meningkatkan upaya konsolidatif melalui komunikasi dan pendekatan personal. Kemudian muncul nama-nama ”orang lama” diantaranya Iksanudin Maskuri, Adi Suroto, Kuswanto, Agus Ramelan dan Misbahul Munir. Suatu saat, setelah dikenalkan dengan ”orang baru” dari STIKes Muhammadiyah Gombong, Wisnu Darmaji, setelah melakukan beberapa kali pertemuan antar personal, saya diajak oleh Agus Ramelan melihat langsung Invitasi PMR Wira yang diselenggarakan  Kampus STIKes Muhammadiyah Gombong pada Minggu, 18 Mei 2014. Pada kegiatan ini saya dipertemukan dengan Pembina KSR Unit Perguruan Tinggi setempat yang kebetulan ada hubungan keluarga, mas Bambang Udoyo. Kepadanya, saya menceritakan ihwal rencana kedatangan dr. Seno Suharyo dari Surabaya yang akan melakukan survey lokasi dan menguatkan langkah yang telah dilakukan oleh teman-teman di Kebumen dalam rangka menyambut para tamu sukarelawan PMI se Indonesia pada kegiatan yang kemudian diberi nama KARYA BAKTI UNTUK NEGERI. (bersambung)


Survey Lokasi Pertama- Adi Suroto & Ibu Herlina

Lapangan Belakang SMPN 2 Adimulyo

Halaman upacara/ Lapangan Volley/ Baket SMPN 2 Adimulyo

Lingkungan kelas di SMPN2 Adimulyo

Posted in , , , , , , , , , | Leave a comment

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI - Bagian I

Perjalanan KampoengRelawan dalam upaya menguatkan kapasitas organisasi PMI terus berlanjut. Dari Rembug Relawan I di Markas PMI Kabupaten Bantul, DI Yogykarta, 24 - 26 Mei 2013, sebulan kemudian bergeser ke arena Temu Karya Nasional V (TKN) Relawan PMI di obyek wisata Waduk Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur: 24 - 30 Juni 2013. Di arena ini, KampoengRelawan jadi nama perkampungan peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Selain jadi nama perkampungan peserta, arena TKN V 2013 juga menjadi saksi sejarah bagi para sukarelawan maupun organisasi PMI yang satu diantaranya memunculkan "Pernyataan (tulis) Ketua DPR RI, Dr, Marzuki Alie, tentang #RUUKepalangmerahan" yang sampai saat ini masih terkatung-katung dalam proses politik sektarian.





 Rembug Relawan I di Bantul




Apresiasi dari PMI Pusat

Mencermati perkembangan terakhir proses pembahasan #RUUKepalangmerahan di DPR RI, sejumlah sukarelawan mengambil inisiatif untuk menanyakan hal itu kepada Pengurus Pusat PMI. Dari beragam sesi rembug kecil di Markas PMI Kota Jakarta Selatan 31 Oktober dilanjutkan beberapa kali pertemuan dalam beragam sesi diskusi lewat sosial media, layanan pesan singkat, telepon maupun tatap muka, disimpulkan bahwa untuk menyikapi perilaku sektarian para anggota DPR RI, sukarelawan PMI sebagai jantung dan ujung tombak organisasi perlu unjuk kekuatan di luar arena yang dikenal selama ini. Akhirnya disepakati bahwa 3 Desember 2013 atau dua hari jelang peringatan Hari Relawan Internasional, para sukarelawan PMI se Indonesia melakukan AKSI DAMAI di Gedung DPR RI Senayan Jakarta.



 Awal perjalanan ke Senayan



























Aksi Damai 3 Desember 2013 di Gedung DPR RI Senayan





Koordinasi dengan beragam elemen PMI

Aksi Damai di Gedung DPR RI 3 Desember 2013 yang diikuti sekitar 500 sukarelawan tua - muda : Kalimantan (2 orang), Bali (2 orang), Jawa Timur (3), DIY (10), Jawa Tengah (3), Sumatera (1) dan sisanya dari Jawa Barat (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Banjar, Kota Tasikmalaya, Kab.Subang, Kota Cirebon, Kab. Majalengka, Kab. dan Kota Bogor, Kota Sukabumi, Kota Depok dan Kab dan Kota Bekasi), seluruh wilayah DKI minus Kab. Kepulauan Seribu dan Provinsi Banten. Inti kegiatan ini adalah keluarnya Pernyataan Sikap Relawan PMI se Indonesia tentang RUU Kepalangmerahan yang dibacakan oleh Kordinator Aksi Damai, Toto Karyanto (Pak Itong) dari Kab. Kebumen Jawa Tengah. Aksi ini kemudian berlanjut dengan audiensi ke 7 fraksi anggota Panitia Khusus #RUUKepalangmerahan dari tanggal 5 s/d 17 Desember 2013. 



   

Posted in , , , , , , | Leave a comment