Archive for Juli 2013

MENGENAL LEBIH DEKAT KAMPOENG RELAWAN (II)


Kampoeng Relawan (KR) adalah komunitas sosial media para Relawan PMI yang memiliki niat, minat dan daya untuk memajukan kehidupan diri para relawan serta organisasi PMI di masa yang akan datang sesuai Prakarsa Bantul. Dalam mengimplementasikannya, kehidupan di Kampoeng Relawan diharapkan dapat mencerminkan segala upaya baik berbentuk gagasan maupun tindakan sistematis di dunia nyata. Terutama dalam hal menggalang kekuatan dan memanfaatkannya untuk mewujudkan kemandirian relawan sebagai satu hal yang diutamakan dan menjadi roh Prakarsa Bantul yang juga merupakan landasan pokok Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta PMI khususnya.

Kemandirian dapat direalisasikan secara proporsional dan profesional ketika para relawan PMI memiliki kemandirian ekonomi. Sehingga dalam mengantar jasa bagi kemanusiaan, warga KR mampu melaksanakannya dengan cara efektif dan efisien (maksimal). Hal ini merupakan proses panjang dan mengerahkan energi besar.

Mengacu pada situasi kekinian, di saat banyak negara di berbagai belahan dunia mulai mengubah pendekatan ekonominya ke arah pengembangan ekonomi kreatif yang berbasis pada kekuatan kreatif individu dan/atau kelompok-kelompok kecil kegiatan khusus.  Hal ini sesuai dengan kondisi umum warga KR yang tersebar di seluruh penjuru tanah air, dengan beragam sumber daya yang selaras dengan trend, kondisi faktual serta peluang besar  mewujudkan kemandirian ekonomi sesuai karakter pribadi masing-masing warga KR. Dengan visi: selalu ada yang lebih baik artinya para warga KR ditantang untuk selalu berupaya maksimal melakukan inovasi-inovasi dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada. Pendekatan ekonomi kreatif membuka peluang lebar-lebar untuk mewujudkan hal di atas.

KSR Undip di sentra kerajinan pandan Kebumen


Ada 15 jenis kegiatan ekonomi kreatif yaitu:
  1. Kerajinan dengan beragam varian-nya.
  2. Seni pertunjukan
  3. Busana (fesyen)
  4.  Layanan Komputer dan piranti lunak (software).
  5. Desain (termasuk desain grafis)
  6. Film, video dan fotografi
  7. Permainan interaktif (video game, komik digital dll)
  8.  Periklanan
  9. Penerbitan dan percetakan
  10. Arsitektur
  11. Musik
  12. Pasar barang seni
  13. Riset dan pengembangan
  14. Televisi dan radio
  15. Kuliner


Dari 15 jenis kegiatan di atas, berdasarkan prakiraan sementara, ada 11 sub sektor (jenis kegiatan kreatif)  yang berpeluang besar dapat diwujudkan segera yaitu:
  • kerajinan,
  • busana,
  • kuliner,
  • film-video dan fotografi,
  • kuliner
  • desain,
  • permainan interaktif,
  • layanan komputer dan piranti lunak,
  • pasar barang seni,
  • penerbitan dan percetakan serta
  • televisi dan radio.


Pada sub sektor kerajinan misalnya, KR dapat menjalin kerjasama dengan Himpunan atau organisasi profesi yang telah ada semisal Hipando (Himpunan Perajin Anyaman Indonesia), Asephi (Asosiasi Eksportir dan Pengusaha Handicraft Indonesia/Asephi) dan Indonesia Diaspora Network (IDN) untuk akses pemasaran produk-produk warganya. Karena di setiap daerah terdapat potensi kerajinan khas dan unik tapi belum dikelola maksimal. Warga KR yang berminat menekuni kegiatan kerajinan dapat bekerjasama dengan organisasi-organisasi di atas dan atau Kementrian yang kompeten. Tentang sumber dana, ada peluang untuk memberdayakan dana program pertanggung-jawaban sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/ CSR) berbagai perusahaan yang di tempat atau karena alasan tertentu masih mencari mitra kerja potensial. Tentang hal ini dan beberapa tulisan saya mungkin dapat memperkuat penjelasan tentang ekonomi kreatif dan OVOP.


Untuk itu, kemandirian ekonomi di dalam KR akan diupayakan dengan 3 misi :
  1. Social/ Sociopreneurship: kewirausahaan yang berbasis sosial yaitu kegiatan bisnis yang dilakukan dengan melibatkan banyak orang sesuai asas gotong royong. Tujuan utama bisnis yang berorientasi mendapatkan keuntungan ekonomi diimbangi dengan pelibatan secara aktif dan produktif semua anggota komunitas. Bidang (sub sektor) ekonomi kreatif yang sesuai untuk ini adalah kerajinan, kuliner, percetakan dan penerbitan serta film-video dan fotografi. Untuk mengetahui kegiatan dan organisasinya ( Asosiasi Kewurausahaan Sosial Indonesia ) .  
  2. Technopreneurship: kewirausahaan berbasis teknologi. Sub sektor kegiatan ekonomi kreatif yang sesuai untuk ini adalah layanan komputer dan piranti lunak; televisi dan radio serta riset dan pengembangan. Pengertian dan ruang lingkup technopreneurship perlu dipahami lebih dulu. Juga ada di sini.
  3. Entrepreneurship: kewirausahaan yang dilakukan secara individual atau kelompok kecil ( 1 – 10 orang). Sub sektor kegiatan ekonomi kreatif yang sesuai diantaranya busana, musik, perikalanan, film-video dan fotografi, pertunjukan, pasar barang seni, desain, arsitektur, kuliner dam permainan kreatif.


Firman melayani Konsumen

Agar tidak rancu, KR membentuk Kedai Kawan yang akan berperan sebagai holding company yang mewadahi tiga unsur kewirausahaan di atas. Bentuk badan usahanya bisa Koperasi atau perseroan terbatas. Teknis dam tata cara pembentukannya ada dibahas secara khusus. Sementara itu, kegiatan sosial KR tetap berjalan sesuai dengan Prakarsa Bantul yang akan mendorong upaya-upaya nyata dan terstruktur untuk memajukan warga KR, relawan maupun organisasi PMI pada umumnya.

Posted in , , , , , , , , | Leave a comment

Kesukarelaan dan Kehidupan Berkelanjutan: Kutipan Laporan Kesukarelaan dari Berbagai Negara di Dunia 2011


Pada Sabtu pertama di bulan Juli, kita memperingati Hari Internasional Koperasi untuk menampilkan peran koperasi dalam pembangunan sosial yang berkelanjutan di seluruh dunia. Tahun ini, fokus dari Hari Internasional kontribusi koperasi dalam membangun ketahanan masyarakat pada saat krisis ekonomi, sosial dan lingkungan.

Ketika banyak lembaga keuangan pailit, koperasi (jasa) keuangan telah menunjukkan kekuatan mereka, diuntungkan anggota mereka, karyawan dan pelanggan. Pada saat banyak masyarakat di seluruh dunia sedang menghadapi krisis pangan, koperasi pertanian telah menunjukkan pentingnya mereka untuk mencapai ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas petani dengan memfasilitasi akses ke pasar, kredit, asuransi dan teknologi.

Koperasi juga menunjukkan relevansi mereka setelah bencana, seperti gempa bumi, tsunami dan banjir, ketika mereka telah menunjukkan kemampuan mereka untuk memobilisasi solidaritas untuk situasi rekonstruksi. Selain itu, koperasi diakui oleh Rio +20 karena peran mereka dalam pembangunan berkelanjutan dalam konteks krisis lingkungan.
Sementaraitu,  koperasi bisa ada di semua strata sosial, nilai-nilai intinya dapat membuat koperasi ideal untuk menyediakan barang dan jasa kepada orang miskin, tersisih, dan terpinggirkan sektor masyarakat. Singkatnya, mereka adalah sumber utama untuk pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan mereka sendiri dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, koperasi membantu individu, keluarga dan masyarakat membangun ketahanan, terutama di saat krisis.

Untuk memperingati Hari Internasional Koperasi, United Nations Volunteers (UNV) Program Amerika meluncurkan Laporan Ringkas  Kesukarelaan Dunia (SWVR) 2011, yakni tentang  Kesukarelaan dan Penghidupan Berkelanjutan. Laporan ini , sesuai dengan pandangan banyak ahli pembangunan, mendefinisikan penghidupan berkelanjutan dapat mengatasi dan memulihkan diri dari tekanan dan guncangan dan memelihara atau meningkatkan kemampuan dan aset, baik sekarang dan di masa depan, tanpa merusak sumber daya alam dasar.
Intisari SWVR ini berfokus pada peran aksi relawan dalam mempromosikan penghidupan yang berkelanjutan.
Koperasi memungkinkan anggota masyarakat, khususnya masyarakat miskin berpenghasilan rendah, untuk mendapatkan akses ke berbagai aset modal dalam masyarakat  sebagai relawan. Koperasi menyediakan sumber daya sosial, berdasarkan kepercayaan, saling pengertian dan nilai-nilai bersama.

Koperasi juga dapat memberikan kesadaran dan partisipasi dalam proses politik. Asosiasi berbasis relawan dapat memberikan keterampilan kepada warga sipil, seperti mengatur tindakan dan advokasi untuk isu-isu kolektif.

Sumber (tulisan asli) : volunteerism and sustainable livelihoods

Posted in , , , , , , | Leave a comment

Stand Up Volunteer: Jembatan Buat Relawan PMI di Masa Depan (I)

Prolog Moderator
Oleh : Toto Karyanto
Istilah asing ini pertama kali saya dengar dari rekan Seno Suharyo (Surabaya) dan Andi Gumilar (Jakarta) di sela rencana mengisi kegiatan alternatif bagi peserta Temu Karya Nasional V 2013 Relawan Palang Merah Indonesia (TKN V 2013 Relawan PMI) di Basecamp Kampoeng Relawan Wisma Sakura 7 Obyek Wisata Waduk Selorejo, Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada hari ke 3 pelaksanaan. Secara harafiah, Stand Up Volunteer berarti Relawan Bicara. Karena pengertian itu yang saya tangkap dari berbagai pembicaraan kedua orang tersebut. Dengan gaya khas, Andi Gumilar yang akrab disapa Bang Andi memberi gambaran umum tentang langkah dan hal ihwal materi acara yang tengah direncanakannya. Yakni menyediakan ruang yang cukup terbuka bagi relawan PMI anggota kontingen peserta TKN V untuk berbicara tentang dirinya dalam segenap pengetahuan, pengalaman dan masalah yang ada di sekeliling. Sisi menarik dari rencana ini adalah sifat kegiatan yang non formal alias tidak diagendakan oleh Panitia. Atau mempertajam pembahasan yang ada di dalam agenda kegiatan formal “Sarasehan Relawan Sebagai Agen Perubahan” pada tema Rancangan Undang Undang (RUU) Kepalangmerahan dengan nara sumber Ketua DPR RI, Bapak Marzuki Alie.

Mengapa relawan PMI perlu bicara ? Sebagai ujung tombak segenap kegiatan operasional PMI, relawan selalu berhadapan dengan situasi aktual dalam mengabdi pada organisasi. Dari dua sesi acara Stand Up Volunteer yang digelar di depan Kedai Kampoeng Relawan di lingkungan Bazar Relawan terungkap banyak hal tentang ketidak-harmonisan hubungan antara 3 komponen utama organisasi PMI: Pengurus, Staf dan Relawan yang berlangsung dalam waktu yang panjang tanpa ada tanda-tanda penyelesaian mendasar dan menyeluruh.  Selain bersumber dari  ketidak-sesuaian aturan dasar (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) dengan segala turunannya, posisi relawan yang tidak jelas dalam struktur organisasi, praktik yang salah atau keliru dalam menjalankan tugas pemerintah, akuntabilitas dan lain-lain.

Selaku pemandu acara, saya mengantarkan diskusi dengan memberi gambaran bahwa relawan PMI yang jumlahnya tak kurang dari sejuta, jika masing-masing bersedia menyumbang 10 ribu rupiah,  maka terkumpul dana 10 milyar. Satu jumlah yang cukup besar untuk melakukan banyak aktivitas produktif dan inovatif. Dengan gambaran ini, peserta diharapkan dapat membayangkan bahwa kekuatan relawan PMI jika dikumpulkan merupakan potensi besar yang tak dapat diabaikan baik secara internal maupun eksternal. Meski prolog ini tidak berlanjut dengan respon searah, dalam proses tanya jawab dengan Ketua Bidang Relawan Pengurus PMI Pusat, Bapak H.M. Muas, sempat mengemuka pengakuan bahwa beliaupun termasuk “gila” dalam menggerakkan roda organisasi PMI. Pengakuan ini setidaknya membuat suasana dialog menjadi cair dan mengalir.

Gaya Pak Muas 1 

Proses dialog dimulai dari pernyataan moderator yang menegaskan bahwa forum ini “bukan pemuas nafsu” karena banyaknya masalah yang ada di dalam organisasi PMI. Terutama berkait dengan posisi relawan yang selama ini acapkali diperlakukan tidak adil oleh staf maupun pengurus di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Sebagaimana dikatakan oleh penanya pertama, Eko dari DKI Jakarta, bahwa banyak masalah yang harus diselesaikan untuk menyongsong masa depan PMI yang lebih baik di masa mendatang.

Pertanyaan berikutnya dari Bambang (Kalimantan Barat) yang menyoroti kinerja Panitia TKN V. Bahwa secara umum, panitia pusat maupun lokal berkesan tidak cukup siap menyelenggarakan kegiatan akbar lima tahunan ini dengan banyaknya kesalahan yang dibuat, mengulang kesalahan yang sama di masa lalu, kurang kordinasi dan komunikasi. Sementara itu, Aziz Zaki dari Nusa Tenggara Barat menyoroti masalah keuangan berkaitan dengan aspek monitoring dan evaluasi (monev) karena terjadi banyak perubahan rencana dan bersifat mendadak. Akibatnya, banyak kontingen yang harus menyiapkan tambahan dana dan hal ini berdampak pada masalah pertanggung-jawabannya.

Sorang peninjau dari Bali yakni Pak Cok, panggilan akrab Bapak Agung Adnyana, dari Persatuan Donor Darah Kabupaten Badung mengeluhkan tidak dilibatkannya PDDI dalam aktivitas rekrutmen anggota kontingen, kepanitiaan lokal maupun pusat yang membuat dirinya merasa kesulitan melakukan proses monitoring dan evaluasi kegiatan dalam TKN V ini. Kendala lain adalah faktor jarak. Sehingga efektivitas kegiatan akbar ini layak dipertanyakan.



Pak Cok membubuhkan tanda tangan dukungan

Suasana dialog menjadi semakin menarik dan hangat dengan tampilnya Ria dari Kalimantan Timur yang mengenakan asesori layaknya seorang ratu. Dengan pembawaannya yang kocak, ia memaparkan keheranannya atas beberapa hal penting yang mengalami perubahan tanpa ada penjelasan memadai dari Panitia. Pertama, soal rencana atau agenda kegiatan menginap di tengah warga masyarakat sebagai pelaksanaan giat pengabdian masyarakat yang ditiadakan. Kedua, ia juga mempertanyakan soal kompetensi dalam giat temu karya ini. 
 Aziz NTB
Ria Kaltim

Posted in , , , , , , , , , , | Leave a comment

Kabupaten Bener Meriah NAD dilanda Gempa 6.2 SR

Bener Meriah, NAD Lokasi Gempa

Gempa berkekuatan 6.2 SR melanda Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Selasa (2/7).

Lokasi gempa yang dekat dengan gunung berapi aktif, masih menjadi perkiraan apakah ini disebabkan oleh pergerakan magma di dalam tanah atau sebab lain.

Akibat dari kejadian ini, puluhan rumah rusak dan tiang listrik banyak yang tumbang. Selain itu, terdapat pula korban jiwa di lokasi gempa.

Gempa terjadi pukul 14:37:03 WIB dengan Kedalaman 10 km, 35 km BaratDaya dari pusat kota Kabupaten Bener Meriah, NAD.

Semoga warga dan relawan PMI dibantu unsur TNI/POLRI dapat mengendalikan situasi hingga pertolongan bisa cepat dilakukan. (BM)

Posted in , | Leave a comment